Di atas payung yang tumbuh dari suara jangkrik,
seekor kompas berenang di langit ketujuh belas.
Ia membawa surat dari hujan yang belum pernah turun,
bertuliskan:
"jadilah pelopor kamtibmas."
Maka batu-batu mulai belajar tersenyum,
lampu jalan menanam padi di punggung awan,
dan jam dinding memelihara burung-burung waktu
yang bertelur ketenangan di halaman malam.
Di negeri tempat bayangan memakai seragam embun,
marwah organisasi disimpan
di dalam cangkir yang terbuat dari gema doa.
Tak terlihat mata,
namun terdengar oleh akar-akar pohon
yang berbisik kepada gempa agar tetap sopan.
Seekor ikan terbang menjadi ketua angin,
mengumpulkan rapat para pelangi yang kehilangan warna.
Mereka sepakat menjaga kehormatan langit
agar tidak dicuri oleh kabut yang mabuk matahari.
Jadilah pelopor, kata semut kepada galaksi.
Jadilah penjaga, kata bintang kepada lumpur.
Karena keamanan bukan hanya milik manusia,
tetapi juga milik daun-daun yang sedang bermimpi
menjadi jembatan bagi bulan.
Dan ketika fajar keluar dari saku seekor kupu-kupu tua,
seluruh arah berdiri memberi hormat
kepada mereka yang menjaga ketertiban
tanpa mengharapkan tepuk tangan.
Sebab marwah organisasi adalah burung tak bernama,
yang hanya hinggap pada hati-hati yang jujur,
sementara kamtibmas adalah sungai tak kasatmata
yang mengalir dari niat baik
menuju semesta yang sedang belajar damai.
