Senin, 08 Juni 2026

Jurnalis Akar Rumput


Di bawah rumput yang menulis dirinya sendiri,

seorang jurnalis meminjam tinta dari embun yang belum lahir.
Ia mewawancarai bayangan cacing
tentang arah angin yang tersesat di kantong semut.

Koran pagi dicetak oleh akar-akar beringin,
huruf-hurufnya tumbuh menjadi jangkrik hijau
yang melompat ke telinga bulan
sambil membawa kabar dari sawah yang bermimpi menjadi lautan.

Jurnalis akar rumput tidak membawa kamera,
ia memotret menggunakan suara daun gugur.
Setiap kliknya melahirkan seribu kupu-kupu transparan
yang melaporkan peristiwa dari negeri di balik sendok.

Di sana, waktu bekerja sebagai tukang tambal langit,
sedangkan awan menjual gorengan kepada pelangi.
Seekor kerbau membaca berita utama
tentang hilangnya angka tujuh dari kalender hujan.

"Apa faktanya?" tanya matahari.
"Fakta adalah batu yang belajar berenang," jawab rumput.
"Apa sumbernya?" tanya langit.
"Sumbernya sumur tua yang menelan gema petir."

Maka sang jurnalis terus menulis,
dengan mesin ketik dari tulang angin dan serbuk senja.
Beritanya terbit di koran para belalang,
dibaca oleh bintang-bintang yang sedang lembur menjaga malam.

Dan ketika dunia tertidur di dalam cangkir kopi,
ia masih duduk di akar rumput paling kecil,
mengabarkan kisah-kisah yang tak dipercaya gravitasi,
namun diam-diam dicatat oleh semesta
di buku harian seekor hujan yang lupa cara jatuh.

(Mbah Bejo)