Minggu, 07 Juni 2026

Lampu-Lampu yang Menanam Malam


Malam ini aku duduk di warkop pinggir sawah,
menyeruput wedang kopi yang ternyata bukan kopi,
melainkan cairan hitam hasil perasan bayangan bulan
yang semalaman diperas oleh jangkrik-jangkrik tua.

Bangku kayu yang kududuki perlahan tumbuh akar,
menancap ke inti bumi,
sementara gelasku melayang setinggi alis langit
dan berdiskusi dengan bintang-bintang tentang harga kesunyian.

Sawah di depanku tidak menanam padi,
melainkan menanam waktu yang gagal panen.
Bulir-bulirnya berisi detik-detik hilang
yang pernah jatuh dari saku para petani mimpi.

Angin sepoi-sepoi datang tanpa tubuh,
membawa surat dari abad yang belum lahir.
Kubuka perlahan,
isinya hanya suara katak yang diterjemahkan menjadi warna hijau.

Seekor nyamuk menggigit kakiku.

Namun nyamuk itu ternyata seekor filsuf,
ia tidak menghisap darahku,
melainkan menghisap satu kenangan masa kecil
lalu terbang sambil menulis puisi di punggung kabut.

Dari kejauhan kulihat lampu-lampu rumah menyala.

Tapi semakin lama kupandangi,
lampu-lampu itu berubah menjadi telur kunang-kunang raksasa
yang dierami malam dengan kedua sayapnya yang tak terlihat.

Satu lampu menetas menjadi hujan.
Satu lampu menetas menjadi jalan setapak.
Satu lampu lagi menetas menjadi seorang kakek
yang menjual arah mata angin dalam kantong plastik.

Kopi di tanganku mulai dingin.

Lalu dinginnya berubah menjadi perahu,
berlayar pelan di atas permukaan udara,
melewati pagar-pagar sawah yang terbuat dari suara azan,
menuju sebuah pulau yang hanya muncul
ketika manusia lupa namanya sendiri.

Aku masih duduk di sana.

Atau mungkin tidak.

Mungkin yang duduk hanyalah bayanganku,
sedangkan aku sudah lama menjadi lampu kecil di kejauhan,
berkedip-kedip di antara sawah dan langit,
menunggu seseorang menyeruput secangkir malam
agar aku bisa pulang menjadi gelap kembali.