Kamis, 04 Juni 2026

Ketika Keselamatan Kerja Harus Mengalahkan Alasan Penghematan

Saya ingin berbagi pengalaman yang mungkin juga dialami oleh banyak pekerja proyek di lapangan.

Sudah cukup lama saya bekerja di lokasi KM patmo. Selama bertahun-tahun, saya berkali-kali melaporkan bahwa alat blander potong (cutting torch) yang kami gunakan mengalami kerusakan. Namun setiap kali laporan disampaikan, jawaban yang saya terima hampir selalu sama: "Diakali saja supaya masih bisa dipakai."

Sebagai pekerja, saya berusaha mengikuti arahan. Alat tersebut diservis sendiri, diperbaiki dengan berbagai cara, bahkan dicoba diakali agar tetap berfungsi. Namun hasilnya hanya sementara. Tidak lama kemudian rusak lagi.

Laporan demi laporan saya sampaikan kepada mekanik. Beberapa kali alat masuk perbaikan, tetapi tetap tidak kembali normal. Bahkan setelah dicoba diperbaiki oleh mekanik lain dan mandor sendiri, hasilnya tetap sama: alat tersebut sudah tidak layak pakai.

Akhirnya saya mengajukan permintaan alat baru kepada admin kantor. Saya mendapatkan Cutting Torch merek Yamato Sangyo. Ketika saya mencari informasi harga di marketplace, alat tersebut berada pada kisaran Rp225.000 hingga Rp238.500. Namun ironisnya, masih ada anggapan bahwa pembelian alat tersebut dianggap terlalu mahal.


Di sinilah saya merasa prihatin.

Perusahaan dapat memperoleh proyek besar, memenangkan tender, dan menjalankan pekerjaan bernilai miliaran rupiah. Namun ketika berbicara mengenai alat kerja yang menjadi penunjang keselamatan pekerja, sering kali muncul pertimbangan yang berlebihan mengenai biaya.

Padahal, penghematan dan efisiensi adalah hal yang baik. Tetapi efisiensi yang mengorbankan keselamatan bukanlah efisiensi, melainkan risiko yang sedang ditunda.

Saya pernah mengalami luka bakar pada tangan akibat menggunakan alat yang sudah rusak. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa alat kerja yang tidak standar bukan hanya menghambat pekerjaan, tetapi juga dapat membahayakan nyawa pekerja.

Dalam dunia konstruksi dan industri, keselamatan kerja bukan sekadar formalitas administrasi. Standar keselamatan, prosedur kerja, dan kelayakan alat merupakan bagian penting dari budaya kerja profesional. Satu alat rusak yang dipaksakan beroperasi dapat menjadi penyebab kecelakaan yang merugikan pekerja, perusahaan, bahkan proyek itu sendiri.

Yang membuat saya semakin berpikir adalah kenyataan bahwa beberapa kali saya harus mengeluarkan uang pribadi untuk menunjang pekerjaan. Saya pernah membeli mata bor sendiri, kabel ties sendiri, bahkan membawa tang dan obeng milik pribadi agar pekerjaan tetap berjalan.

Sampai hari ini pun saya masih bekerja tanpa alat gerinda yang memadai karena belum tersedia penggantinya. Saya hanya berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Jika memungkinkan aku punya rezeki banyak, aku mungkin harus beli gerinda sendiri pakai uangku sendiri.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Saya hanya ingin mengajak para mandor, pengawas, dan pihak yang memiliki kewenangan agar melihat persoalan ini dari sudut pandang yang lebih luas.

Seorang pekerja yang diberikan alat kerja yang layak akan bekerja lebih aman, lebih cepat, lebih produktif, dan menghasilkan kualitas pekerjaan yang lebih baik. Sebaliknya, alat yang tidak layak hanya akan menambah risiko kecelakaan, biaya perbaikan, keterlambatan pekerjaan, dan beban mental pekerja.

Seorang mandor bukan hanya bertugas mengejar target pekerjaan, tetapi juga menjaga keselamatan orang-orang yang bekerja di bawah tanggung jawabnya. Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah proyek tidak hanya diukur dari selesainya pekerjaan, tetapi juga dari pulangnya seluruh pekerja ke rumah dalam keadaan selamat.

Untuk semua rekan pekerja yang mengalami kondisi serupa, tetaplah bekerja dengan profesional dan bertanggung jawab. Sampaikan laporan kerusakan dengan baik, dokumentasikan setiap temuan, dan jangan pernah menganggap keselamatan sebagai hal yang sepele.

Dan untuk saya pribadi, ketika tidak ada lagi tempat mengadu, saya memilih mengadukannya kepada Allah SWT dalam setiap sepertiga malam. Karena saya percaya, tidak ada satu pun keluhan, perjuangan, dan kesulitan seorang hamba yang luput dari pendengaran-Nya.

Semoga setiap pemimpin proyek diberikan kebijaksanaan, setiap mandor diberikan kepedulian, dan setiap pekerja diberikan perlindungan serta keselamatan dalam mencari nafkah yang halal.